TBM 1 Afdeling VI Bukit Lima Terbungkus Makuna, Perlu Penanganan Agar Tanaman Pokok Tumbuh Optimal
SIMALUNGUN – Kondisi Tanaman Belum Menghasilkan (TBM) 1 di Afdeling VI Bukit Lima, Kecamatan Huta Bayu Raja, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, menjadi perhatian setelah areal tanaman terlihat dipenuhi oleh makuna (*Mucuna* sp.). Berdasarkan dokumentasi lapangan yang diambil pada Sabtu (18/7/2026) pukul 11.32 WIB, tanaman penutup tanah tersebut tampak tumbuh lebat hingga menutupi sebagian besar areal TBM, memicu kekhawatiran akan optimalitas pertumbuhan tanaman pokok.
Makuna merupakan tanaman penutup tanah (*cover crop*) yang umum digunakan di perkebunan karena memiliki berbagai manfaat ekologis. Keberadaannya dikenal mampu mengurangi risiko erosi, menjaga kelembapan tanah, meningkatkan kandungan bahan organik, serta menekan pertumbuhan gulma. Dengan pengelolaan yang baik, makuna turut berkontribusi dalam menjaga kualitas dan kesuburan tanah.
Namun, di balik segudang manfaatnya, pertumbuhan makuna yang tidak terkendali dapat menimbulkan tantangan serius bagi perkembangan tanaman pokok. Sulur-sulur tanaman yang menjalar berpotensi membelit batang tanaman muda, menutupi tajuk, serta mengurangi intensitas sinar matahari yang sangat vital bagi TBM 1 untuk tumbuh secara optimal.
Melihat kondisi di Afdeling VI Bukit Lima, penanganan rutin dan terencana menjadi krusial. Kegiatan pemeliharaan yang direkomendasikan meliputi pengendalian pertumbuhan makuna di sekitar tanaman pokok, pembukaan piringan, pembersihan jalur tanaman, serta memastikan setiap pohon memperoleh ruang tumbuh yang memadai. Langkah-langkah ini esensial agar tanaman memperoleh asupan cahaya matahari, sirkulasi udara, dan unsur hara secara optimal, sehingga pertumbuhannya tidak terganggu.
Selain itu, pemantauan berkala sangat diperlukan untuk menciptakan keseimbangan antara fungsi makuna sebagai tanaman penutup tanah dengan kebutuhan pertumbuhan tanaman utama. Dengan strategi pengelolaan yang tepat, manfaat makuna dapat tetap dipertahankan tanpa mengorbankan perkembangan TBM menuju fase menghasilkan yang diharapkan.
Editor: Fernando Albert Damanik





