SUMATERA UTARA, 24 Agustus 2026 – Di tengah kekayaan budaya Nusantara yang dikenal dengan semboyan “Beda suku, beda adatnya”, masyarakat Batak dengan teguh menjaga warisan leluhur mereka melalui tradisi Mangokal Holi, atau dikenal juga sebagai Mangihuthon Holi. Meskipun bagi sebagian masyarakat luar prosesi penggalian dan penyusunan kembali tulang-belulang kerabat ini mungkin terkesan mistis, bagi masyarakat Batak, ritual ini adalah manifestasi penghormatan tertinggi, wujud bakti kepada orang tua, sekaligus upaya mempererat persatuan garis keturunan (marga).
Mangokal Holi merupakan tradisi memindahkan jasad leluhur atau kerabat yang telah lama dimakamkan—bahkan yang telah puluhan tahun mengering—menuju tempat peristirahatan terakhir yang lebih layak, seperti Sopo Tugu atau tugu keluarga.
Makna dan Tahapan Prosesi Adat
Tahap awal prosesi dimulai dengan pengangkatan tulang-belulang dari makam lama. Keluarga kemudian membersihkannya secara cermat menggunakan kain halus dan air jeruk purut atau air khusus. Setelah bersih, tulang-belulang tersebut disusun kembali secara rapi sesuai urutan anatomis, sebelum akhirnya ditempatkan dalam peti kecil atau dipindahkan ke tempat pemakaman permanen di tugu keluarga.
Lebih dari sekadar pemindahan makam, pembangunan tugu dan pelaksanaan Mangokal Holi juga melambangkan kesuksesan finansial (Hamboraon) dan persatuan keluarga besar. Tradisi ini juga mengandung harapan mendalam agar seluruh keturunan yang ditinggalkan senantiasa diberkahi dan hidup dalam kerukunan.
Prosesi Mangokal Holi diiringi dengan pesta adat Batak yang meriah. Acara ini melibatkan alunan musik Gondang yang khas, pembacaan doa-doa, serta jamuan makan bersama yang dihadiri oleh seluruh kerabat, baik yang dekat maupun jauh, dalam semangat kekeluargaan yang dikenal sebagai Dalihan Natolu.
Keunikan tradisi Mangokal Holi memang sering kali menarik perhatian dan memicu rasa penasaran dari masyarakat luas. Namun, di balik itu, tradisi ini secara tegas menunjukkan betapa fundamentalnya nilai ikatan kekeluargaan dan penghormatan terhadap leluhur dalam setiap sendi kehidupan budaya Batak.
Laporan: IRMAYANI
Editor: Fernando Albert Damanik


